Tampilkan postingan dengan label beji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beji. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2012

KACANG TANAH


Siapa yang tidak kenal dengan kacang? Camilan kriuk renyah gurih ini sering dihindari karena dituduh sebagai biang kerok munculnya jerawat. Padahal kacang punya sejumlah mineral dan vitamin yang dahsyat untuk tubuh.
Makan kacang sambil nonton atau sambil ngobrol memang mengasyikkan. Kadang sampai sulit sekali berhenti sebelum kacang habis. Namun, tidak sedikit orang yang menghindari kacang karena takut gemuk atau jerawatan. Semua jenis kacang mengandung protein nabati yang cukup tinggi. Tak heran jika kacang selalu masuk ke dalam menu diet sehat di beberapa program diet.
Nutrisi apa saja yang terkandung dalam kacang-kacangan? Di dalam semua jenis kacang, terkandung polifenol antioksidan terutama senyawa asam p-coumaric. Kacang tanah sangrai, meningkatkan kadar asam p-coumaric dan secara langsung meningkatkan kadar antioksidan menjadi 22%. Antioksidan di dalam kacang yang disangrai sama dengan antioksidan di dalam strawberry dan blueberry. Bahkan melebihi apel, wortel, dan buah bit.
Kacang tawar tanpa rasa asin baik untuk pembuluh arteri. Satu seperempat cangkir kacang tanah, mengandung lemak tak jenuh tunggal yang setara dengan satu sendok makan minyak zaitun. Lemak tak jenuh tunggal ini sangat baik untuk tubuh karena dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Kandungan Niacin yang tinggi dalam kacang dapat membantu pemulihan kerusakan sel dan melindungi tubuh dari penyakit Alzheimer dan masalah yang berkaitan dengan usia.
Kacang merupakan sumber vitamin E yang sudah dikenal sejak dulu. Vitamin E merupakan salah satu antioksidan yang potensial untuk mencegah timbulnya kanker dan penyakit pada kardiovaskular.
Kacang juga mengandung zat besi sangat baik untuk produksi sel darah merah dalam tubuh.
Jika tak suka dengan susu, bisa diganti dengan kacang. Karena kacang mengandung kalsium yan baik untuk pertumbuhan tulang.
Di dalam kacang terkandung resveratrol bioflavonoid yang cukup tinggi. Bioflavonoid ini membantu meningkatkan aliran darah di otak sebanyak 30%, sehingga mengurangi resiko terkena stroke. Dengan mengkonsumsi kacang setiap hari dapat menguirangi kolesterol jahat hingga 14%.
Di dalam kacang terdapat kandungan serat yang membantu tubuh terhindar dari resiko kanker usus besar.  Juga membantu mempercepat pertumbuhan hormon pria dan wanita. Tumbuhan ini merupakan salah satu komoditi utama yang ditemukan melimpah di Desa Beji, khususnya di Dusun Duren. Tanaman ini belum banyak dimanfaatkan lebih lanjut dan hendaknya digali kembali pengolahan pangan yang tepat guna agar menambah keragaman pangan dalam negeri dan meningkatkan taraf hidup petani.

Senin, 01 Agustus 2011

TIGA SITUS DI KECAMATAN NGAWEN

Peninggalan sejarah memiliki arti penting bagi sebuah daerah, karena dari sejarah itu kita dapat mengenal dan mengetahui sebuah paradaban. Di Kecamatan Ngawen, ternyata terdapat 3 situs peninggalan bersejarah.
Situs-situs tersebut berupa sebuah bangunan peninggalan dari zaman dahulu yang menerangkan tentang sebuah kejadian atau kegiatan atau tatanan masyarakat yang ada di suatu daerah atau kawasan. Situs-situs yang ada di Kecamatan Ngawen ini terkesan kurang terawat atau diperhatikan oleh masyarakat sekitar atau bahkan pemerintah, sehingga banyak yang kurang tahu atau memahamai dimana dan sejauh mana situs itu berarti bagi perkembangan dan sejarah peradaban di Kec. Ngawen.


Situs-situs itu adalah :
1. Situs Watusigar


2. Situs Gedhangan
3. Situs Kampung
Konon ketiga situs tersebut berupa Candi dan Bebatuan Kuno/Klasik, dari ketiga situs tersebut yang agak samar-samar bisa kita tebak adalah Situs Kampung, dimana untuk Desa Kampung tersebut ada satu dusun bernama Candi, kemungkinan besar keberadaan situs itu di dusun tersebut, namun secara persis letaknya dimana saya sendiri juga kurang paham, dan untuk Situs Watusigar ini kemungkinan besar berupa batu terbelah sehingga Desa ini kemudian bernama Watusigar (Baca= Batu Belah). Tentunya hal ini masih memerlukan sebuah penelitian dan konservasi yang lebih mendalam dari ahli sejarah. Agar hal tersebut bisa terungkap ke permukaan dan masyarakat mengetahuinya sehingga akhirnya masyarakat dapat ikut melestarikannya, jangan sampai karena ketidaktahuan masyarakat menjadikan kerusakan pada situs-situs tersebut.

referensi :
http://ngawengunungkidul.wordpress.com/

Sabtu, 09 Juli 2011

Fakultas Biologi Dampingi Warga Beji Berlatih Wirausaha

Gunungkidul, CyberNews. Warga Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul yang jumlahnya mencapai lebih dari lima ribu penduduk, belum bisa mengoptimalkan hasil pertaniannya, seperti padi, kedelai, maupun jagung. Masyarakat setempat, selama ini masih bertani maupun berwirausaha secara tradisional. Akibatnya, hasil pertanian dan wirausaha yang digeluti menjadi tidak maksimal.
Hal itulah yang menjadikan Desa Beji dan Kemadang, Ngawen menjadi desa binaan Fakultas Biologi melalui Education for Sustainable Development (EfSD) program I-MHERE (Indonesia Managing Higher Education for Relevancy & Efficiency). Menurut PIC I-MHERE Sub Aktifitas 3.1, Slamet Widiyanto SSi MSi, selain Fakultas Biologi, untuk membina dua desa tersebut juga melibatkan LPPM UGM dan MM UGM.
"Kalau melalui LPPM dengan KKN-nya sudah sejak sekitar tahun 1999, namun Fakultas Biologi masuk sekitar tahun 2006 lalu," paparnya di Balai Desa Beji.
Seperti kegiatan sosialisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan pelatihan kewirausahaan yang diadakan di Desa Beji hari itu, imbuhnya, merupakan bentuk nyata pendampingan yang dilakukan kepada masyarakat setempat. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 60 peserta dari 14 gabungan kelompok tani (Gapoktan). Dijelaskan, bentuk pendampingan dan pelatihan yang dilakukan diharapkan tetap memperhatikan tiga pilar penting, yaitu ekonomi, sosial dan budaya.
Sementara itu, Kepala Desa Beji, Sularti mengatakan, pendampingan yang dilakukan Fakultas Biologi itu setidaknya bisa menambah wawasan kepada masyarakat untuk mengembangkan usahanya.
Dia mencontohkan, hasil produksi kedelai yang sebelumnya hanya diolah menjadi tahu atau tempe, saat ini sudah berkembang menjadi susu kedelai. Belum lagi pengembangan emping yang selama ini hanya dijual saja, sudah dikembangkan menjadi emping jagung. Sedangkan ketela yang hanya dijadikan gaplek, saat ini sudah berkembang menjadi makanan ringan slondok atau lanting.
Pada acara sosialiasi dan pelatihan wirausaha hari itu, warga mendapatkan pengetahuan, antara lain tentang pengembangan galur kedelai murni, beras berwarna dan fungsinya bagi kesehatan, pengembangan produk kelapa, serta pemanfaatan pupuk hayati untuk mereduksi gas rumah kaca penyebab pemanasan global.
( Bambang Unjianto / CN31 / JBSM )